Welcome to Alislamarrahman

Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Hujjah Tentang Taklid Kepada Abu Hanifa (Mazhab Hanafi)

Assalamu alaykum, Wr. Wb.

In the name of Allah, Most Beneficent, Most Merciful

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, artikel kali ini menjelaskan tentang hujjah-hujjah yang digunakan oleh para pengikut mazhab Hanafi tentang alasan bertaklid kepada imam mereka. Sebelumnya, mungkin telah kita ketahui bahwa para imam yang empat telah menyerukan agar tidak bertaklid secara berlebihan dan kembali kepada dua sumber yang lebih utama, Al Qur’an dan As Sunnah. Jikalau sependapat dengan salah satu imam mazhab, maka hal itu atas dasar perkataan mereka yang mendekati kebenaran Al Quran dan hadist. Mereka –semoga Allah merahmatinya- telah menyatakan yang tertulis dari berbagai macam kitab:

Imam Abu Hanifah berkata, “Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tinggalkanlah pendapatku itu.” (Kitab Al-Iqazh hal. 50)

Imam Malik berkata, Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, ambillah; dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah.” (Kitab Ushul Al-Ahkam VI/149)

Imam Syafi’I, “Setiap perkataanku bila berlainan dengan riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hadits Nabi lebih utama dan kalian jangan bertaqlid kepadaku.” (Ibnu Abi Hatim hal 93)

Imam Ahmad bin Hambal, “Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil.” (Al-I’lam II/302)

Hal yang lebih utama yaitu boleh mengambil pendapat mereka apabila cocok dan sesuai dengan syariat. Sebagaimana kita ketahui bahwa tiada seorang imampun yang maksum (terjaga dari salah) kecuali hanya Rasulullah SAW seorang. Imam Malik (rhm.) pun dengan bijak berkata, ” Siapa pun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri” (Irsyad As-Salik 1/227). Namun demikian, sepertinya perbedaan di dalam tubuh umat Islam menjadi suatu hal yang tidak bisa dihindari. Perselisihan akidah adalah hal yang terus mewarnai perjalanan dakwah ini. Nabi SAW pun pernah mengatakan bahwa, “Umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, yang 72 berada di neraka dan hanya satu yang di surga, yakni Ahlu Sunnah Wal Jama’ah” (HR. Imam Ahmad).

Sebagai hamba-Nya yang beriman, kiranya tidak perlu kita mengikuti sikap taklid melampaui batas terhadap salah satu imam tersebut. Jalan terbaik adalah cukup dengan menyetujui bahwa keempat imam itu baik dan bisa diikuti. Mengenai hujjah para kalangan Hanafiyah yang akan dijelaskan berikut, cukuplah hanya sebagai tambahan wawasan kepada kita.

Secara umum, sebagian Mazhab Hanafi beralasan mereka memilih imam didasari oleh ayat:

“Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui” (An Nahl 43).

Ayat tersebut mengindikasikan posisi seorang ahlul ilmi (dalam hal ini Abu Hanifa) yang berperan sebagai orang yang paling berilmu saat itu, maka beliaulah yang lebih utama untuk dijadikan panutan dalam beragama. Hal ini juga diperkuat oleh hadist dikala Rasulullah SAW bersabda:

“Aku tak tahu berapa lama lagi aku akan bersama kalian. Maka ikutilah dua orang setelah aku; Abu Bakar Ash Shidiq dan Umar bin Khattab” (HR. Tirmidzi).

Hadist tersebut dipahami oleh sebagian ulama bermazhab Hanafi sebagai anjuran Nabi agar mengikuti imam yang terpercaya setelah eksistensi beliau, yaitu Abu Bakar (ra.) dan Umar (ra.). Hadist ini pun diyakini oleh mereka bahwa pada saat itu penduduk Madinah melakukan taklid kepada dua orang sahabat tersebut.

Lebih lanjut, atsar-atsar yang dijadikan hujjah untuk bertaklid secara umum adalah:

  1. Salim bin Abdullah berkata bahwa Ibnu Umar tidak membaca surat di belakang imam (saat salat). Salim menanyakan hal ini kepada Qasim bin Muhammad, ia menjawab: “Jika kau tidak ikut membacanya, maka mereka yang bermakmum juga harus meninggalkan kebiasaan membaca surat di belakang imam. Dan jika kamu membacanya, maka mereka yang bermakmum pun harus membaca di belakang imam” (Al Muwatta Imam Muhammad). Atsar ini menunjukkan bahwa seseorang harus mengikuti imam. Pada saat imam salat dan membaca ayat jahr (dikeraskan), maka makmum cukup diam. Karena memang itulah kaidah fikih salat.
  2. Imam Shaibi berkata: “Barangsiapa yang berkehendak menetapkan wewenang hukum dan keadilan harus menerapkan fatwa yang telah disabdakan oleh Umar” (I’laamul Muqien).
  3. Imam Mujahid berkata: “Ketika orang-orang tidak menyetujui suatu perkara, maka mereka harus menyimak apa yang diperbuat Umar dan menerimanya” (I’laamul Muqien).
  4. Imam Aa’mush berkata mengenai Ibrahim An Nakha’i: “Ibrahim tidak mempedulikan pendapat seseorang melebihi pendapat Umar dan Ibnu Mas’ud ketika keduanya menyepakati suatu perkara. Apabila mereka berselisih, maka Ibrahim lebih memilih pendapat Umar” (I’laamul Muqien).

Berikut adalah atsar yang mendukung sikap taklid mereka terhadap Imam Abu Hanifa secara khusus:

  1. Abu Wahhab Muhammad bin Muzahim berkata; aku mendengar Abdullah bin Mubarrak berkata; “Orang yang paling berilmu dalam masalah fikih adalah Abu Hanifa. Aku belum pernah melihat orang yang seperti beliau dalam hal ini.” (Tahdzib At Tahdzib, 10/450)
  2. Abdullah bin Mubarrak berkata; “Jika Allah tidak mentakdirkan aku bertemu Abu Hanifa dan Sufyan Ats Tsauri, maka aku pasti menjadi seorang ahli bid’ah.” (Manaqib Al Imam Abu Hanifa Lil Kawthari, hal. 19)
  3. Abdullah bin Mubarak berkata; “Jika ada seseorang yang pendapatnya berharga untuk diikuti, orang itu adalah Abu Hanifa.” (Manaqib Al Imam Abu Hanifa Lil Kawthari, hal. 31)
  4. Abdaan berkata bahwa ia mendengar Abdullah bin Mubarrak berkata; “Jika ada orang yang berbicara tidak mengenakkan terhadap Abu Hanifa, aku menjadi tidak senang dan takut Allah murka terhadap mereka.” (Manaqib Al Imam Abu Hanifa Lil Kawthari, hal. 36)
  5. Hibban Ibnu Musa berkata, Abdullah bin Mubarrak ditanya; “Mana yang lebih berilmu dalam hal fikih antara Abu Hanifa dan Malik bin Anas?” Beliau menjawab; “Abu Hanifa” (Tarikhul Islam, 6/142 dan Manaqib Abu Hanifa, hal. 32)
  6. Abdullah bin Mubarrak berkata lebih jauh; “Manakala kami tidak mendapati hadist Nabi, maka pernyataan Abu Hanifa bagaikan hadist buat kami.” (Uquud Al Jaman, hal. 189)
  7. Sufyan Ats Tsauri berkata; “Kami di hadapan Abu Hanifa bagaikan burung-burung kecil di hadapan seekor elang.” (Ar Rafu’ Wat Takmiil, hal. 395)
  8. Ketika ada seseorang yang baru kembali dari bertemu dengan Abu Hanifa, Sufyan Ats Tsauri berkata kepada orang itu; “Kau baru saja kembali dari orang yang sangat berilmu.” (Al Khairatul Hisan, hal. 72)
  9. Imam Abu Yusuf berkata; “Sufyan Ats Tsauri mengikuti Abu Hanifa melebihi aku.” (Uquud Al Jaman, hal. 191)
  10. Yahya bin Ma’in berkata tentang Waki: “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih baik dari Waki, dia mengisi malamnya dengan ibadah, shaum tanpa batal, dan menyatakan fatwa berdasarkan perkataan Abu Hanifa. Yahya bin Qattan pu sering berfatwa sesuai dengan apa yang dikatakan Abu Hanifa.” (Al Intiqa, 1/136)
  11. Hafizh al Qurashi berkata: “Waki mengambil ilmu dari Abu Hanifa dan menerima banyak hal darinya.” (Al Jawahir Al Mudiyya Fii Manaqib Al Hanafiya, 2/208-209)
  12. Waki sendiri berkata mengenai orang menulis surat yang isinya cercaan terhadap Abu Hanifa: “Barangsiapa mengatakan ini (hinaan terhadap Abu Hanifa), dia layaknya binatang bahkan lebih buruk…” (Al Khairatul Hisaan, hal. 72)
  13. Waki berkata: “Aku belum bertemu orang yang lebih baik dari Abu Hanifa, tidak juga orang yang lebih baik salatnya daripada beliau.” (Tarikhul Baghdad, 13/345)
  14. Ahmad bin Sa’id bin Ali Al Qadi berkata; aku mendengar Yahya bin Ma’in  berkata; aku mendengar Yahya bin Sa’id bin Al Qattan (guru Imam Ahmad bin Hambal) berkata; “Ini bukan kebohongan, demi Allah! Kami belum mendengar hal yang lebih baik dari Abu Hanifa, dan kami telah mengikuti kebanyakan perkataan beliau.” (Tahdzib At Tahdzib, 10/450)
  15. Ibnu Taimiyah berkata; “Tiada keraguan mengenai ilmu Abu Hanifa, kemudian orang-orang menyematkan kebohongan yang tidak benar kepadanya. Kalim seperti itu adalah untuk mencemari (nama) Abu Hanifa.” (Minhajus Sunnah Nabawiyah, 1/259)
  16. Imam Ibnu Abdil Barr berkata; “Mereka yang meriwayatkan dari Abu Hanifa dan menyatakannya sebagai orang yang tsiqqah adalah lebih banyak dari mereka yang mencelanya.” (Jami Bayan Ilmi Wa Fadhlihi, 2/149)
  17. Imam Adz Dzahabi mengatakan; “Semoga Allah merahmati guru kami Sheikh Abul Hajjaj (Al Mizzi) yang meriwayatkan dari periwayatan dari mereka yang tidak menggambarkan Abu Hanifa sebagai orang yang dha’if.” (Tahdzib At Tahdzib, 9/225)

Sekiranya cukuplah hujjah-hujjah di atas menjadi landasan dari mereka yang bertaklid kepada Imam Hanafi. Namun tentunya mungkin masih banyak lagi nash-nash yang mereka gunakan selain pernjelasan tersebut. Menyikapi hal ini, cukupkanlah diri kita semua untuk tidak berpecah-belah dan berpegang kepada tali Allah dengan mengikuti pemahaman dari generasi salafus shalih. Golongan mana yang selamat dan diridhai Allah, itu hendaknya dikembalikan kepada-Nya. Semoga kesalahan umat diampuni apabila mereka sudah berusaha untuk bertakwa sekuat tenaga.

Wassalamu alaykum, Wr. Wb….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Arsip

%d blogger menyukai ini: