Welcome to Alislamarrahman

Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Landasan Sederhana Dalam Ber-Islam

Bismillahirrahmanirrahim,

Sebagai muslim yang bertakwa dan beriman dalam arti yang sebenarnya, kita perlu mengetahui konsep peng-esaan Allah yang disepakati oleh para ulama Ahlu Sunnah Wal Jama’ah. Konsep tersebut adalah dasar keimanan kita dalam ber-Islam. Apabila kita tak mengetahuinya, dikhawatirkan ketauhidan kita mengalami penyimpangan sehingga jalan yang semestinya lurus untuk ditempuh bisa berbelok ke kanan kiri dikarenakan ketidakpahaman individu dalam merealisasikan makna iman. Berikut adalah penjelasan sederhana bagi saudara-saudaraku seiman dan semoga yang terdapat di dalamnya bisa memberi manfaat.

TAUHID

Tauhid memiliki defnisi sebuah sikap dalam meng-esakan Allah SWT. Setiap orang muslim wajib meyakini/mengimani sepenuh hati bahwa Tuhan itu satu; Allah SWT dan tak ada Tuhan yang lain selain Dia. Hanya kepada Allah semata kita berserah diri. Nash yang menunjukkan hal ini terdapat di permulaan surat Al Ikhlas: “Katakanlah: Dialah Allah, Tuhan Yang Maha Esa” (Al Ikhlas: 1). Rasulullah SAW telah mengatakan sejak dahulu kala di mana beliau masih hidup di tengah-tengah para sahabatnya tentang mengkikhlaskan seluruh iman dan keyakinan tidak lain diperuntukkan kepada Allah SWT saja, beliau bersabda: “Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah (tak ada Tuhan selain Allah) dengan segala keihklasan dari lubuk hatinya” (HR. Bukhari, no. 99).

Umat Nasrani memiliki keyakinan bahwasanya yang kelak memberi kesaksian di surga ada tiga; Bapa (Allah), Anak (Yesus), dan Ruh Kudus (Jibril). Konsep ini melahirkan suatu keyakinan bahwa ada tiga Tuhan yang menjadi satu kesatuan, dan ini dikenal dengan istilah Trinitas. Allah telah menyinggungnya sebagai kerancuan yang harus ditinggalkan dan kembali kepada meyakini Allah sebagai Tuhan yang satu: “Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya dan janganlah mengatakan: ‘Tiga’. Berhentilah!!!” (An Nisa: 171). Bagi mereka yang tetap bersikukuh menganggap Tuhan ada tiga, Allah telah mengancamnya dengan kekafiran: “Sungguh telah kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang Maha Esa” (Al Maidah: 73).

Berikut adalah pembagian tauhid yang telah disepakati para ulama:

1. Tauhid Rububiyah

Inilah tauhid yang merupakan sikap meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi dan alam semesta ini merupakan atas kehendak Allah. Tiada satu jiwa pun yang wafat atau bahkan sampai sehelai daun pun yang jatuh ke tanah melainkan itu semua adalah karena kehendak-Nya. Hanya karena Allah semata-lah segala peristiwa terjadi. Allah berfirman: “Katakanlah (Muhammad): ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakan: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?’” (Yunus: 31). Pada ayat yang lain: ”Dan sungguh jika engkau tanyakan kepada mereka: ’Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka menjawab: ’Allah.’ (Az Zumar: 38). Ayat yang lain dengan kandungan yang sama: ”Dan sungguh jika engkau tanyakan kepada mereka: ’Siapakah yang mencipotakan langit dan bumi?’ Tentu mereka akan menjawab: ’Allah.’ Katakanlah: ’Segala puji bagi Allah,’ tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (Luqman: 25).

Telah nyata dari nash-nash di atas tentang berkuasanya Allah atas segala sesuatu. Tidak ada suatu peristiwa, kejadian, maupun fenomena baik itu kecil maupun besar yang terjadi di alam semesta ini melainkan semuanya berada dibawah kehendak Allah. Hanya atas izin Allah-lah semua hal tersebut bisa terjadi. Maka barangsiapa yang mengatakan bahwa orang ini mati karena sihir, dan dia meyakini bahwa orang tersebut mati karena sihir dan bukan karena Allah, maka niscaya dia telah mengingkari Tauhid Rububiyah ini. Begitu juga bagi orang yang mengatakan si fulan mati karena menjadi tumbal dari penghuni gaib tempat ini, dan dia meyakini bahwa setan penghuni tempat itulah yang membunuhnya dan bukan atas izin Allah, maka ini juga termasuk pengingkaran terhadap tauhid ini.

Allah berfirman: ”Apabila manusia ditimpa bencana, dia berdo’a kepada Kami. Kemudian apabila Kami berikan nikmat kpadanya, dia berkata: ’Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku.’ Sebenarnya ini adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tak mengetahui” (Az Zumar: 49). Sikap dari orang yang disebutkan Allah dalam ayat tersebut adalah mengingkari bahwa yang memberi nikmat dan rezeki adalah dirinya sendiri atas dasar usaha dan keilmuannya sendiri. Dia tak meyakini bahwa semua nikmat yang dia peroleh adalah berasal dari Allah. Dengan demikian dia telah mengingkari bahwa Allah adalah pengatur segala urusan. Hanya kepada Allah kita berlindung.

2. Tauhid Uluhiyah

Inilah tauhid yang menuntut kita untuk mengikhlaskan segala bentuk ibadah hanya semata-mata untuk mendapat ridha Allah semata. Tauhid Uluhiyah ini memiliki makna bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang kita ibadahi. Seluruh amal ibadah yang kita lakukan baik itu shalat, puasa, haji, dsb. hanya ditujukan khusus kepada-Nya dan tidak sedikitpun untuk sesembahan yang lain. Allah SWT berfirman: ”Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” (Al Kautsar: 2). Kita diperintahkan untuk mengerjakan shalat diniatkan untuk Allah dan tidak ada ruang untuk mengibadahi yang lain, inilah nilai berharaga yang terkandung dalam ayat itu.

Allah SWT berfirman: ”Dan hanya kepada Allah saja hendaknya kamu bertawakkal” (Al Ma’idah: 23). Sekali lagi bahwa Allah berpesan kepada umat-Nya agar memurnikan segala bentuk keikhlasan dan ketawakkalan hanya kepada-Nya. Janganlah sekali-kali kita beribadah agar orang lain melihat kita sebagai orang yang taat atau supaya disebut ahli ibadah, jika kita melakukan yang demikian, maka kita melakukan perbuatan riya atau sum’ah yang tidak mendatangkan pahala sama sekali. Adapun jika kita teguh di atas keikhlasan, maka Allah menjanjikan kemuliaan untuk kita, simaklah betapa indahnya apa yang dituturkan Ahmad bin Hambal: ”Dengan inilah (keikhlasan dan kejujuran) suatu kaum terangkat kepada derajat yang tinggi” (Al Fawa’id, hal. 223).

3. Tauhid Asma Wa Sifat

Tauhid yang ketiga ini definisinya adalah mengikrarkan bahwa Allah adalah satu-satunya pemilik nama-nama yang agung sekaligus tiada satupun makhluk di muka bumi yang menyamai sifat-Nya yang sangat mulia.  Ambillah contoh: ”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang” (Al Fatihah: 1), maka wajib diyakini bahwa Allah-lah yang paling pengasih dan penyayang di alam semesta ini. Kita bisa saja mengatakan bahwa seorang ibu yang melahirkan anaknya memiliki sifat kasih sayang mendalam terhadap buah hatinya itu. Namun sedalam apapun rasa sayangnya, tidak akan melebihi sedalam rasa sayang Allah kepada hamba-Nya yang beriman. Apabila ada yang mengatakan bahwa ibu tersebut memiliki sifat penyayang melebihi Allah, maka orang yang mengatakan hal ini telah mengingkari Tauhid Asma Wa Sifat ini.

Ambillah contoh lain: ”Dialah (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (Al Hadid: 1). Pelajaran yang bisa diambil dari potongan ayat ini adalah bahwa Allah-lah yang paling perkasa di jagad raya ini. Bisa jadi ada seorang ksatria atau pendekar perang yang gagah perkasa, namun tidak peduli seberapa perkasanya dia, tetap takkan mampu menyamai betapa perkasa-Nya Allah. Demikian pula dengan frase ”Maha Bijaksana” yang maknanya meskipun ada seorang hakim atau orang alim yang dikenal bijak dalam memutuskan suatu perkara, namun sifat bijak mereka tidak akan dan tidak akan pernah bisa menandingi betapa bijaksananya Allah SWT. Dan masih banyak contoh lain dalam Al Qur’an yang menyebutkan sifat-sifat Allah yang jauh melebihi sifat makhluk-Nya. Kitabulah menjelaskan: ”Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia” (Al Ikhlas: 4). Maka ambillah pelajaran wahai orang beriman!!!

SYIRIK

Makna sederhana dari kata syirik adalah mempersekutukan Allah dalam penyembahan dengan sesuatu apapun baik berbentuk berhala (sesembahan), orang-orang, benda-benda tertentu, atau aturan dan hukum yang diyakini bisa memberi kemaslahatan kepada manusia selain dari Allah. Syirik adalah dosa terbesar dalam agama Islam yang tak terampuni bagi setiap pelakunya. Allah SWT berfirman: ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selainnya bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempesekutukan Allah, maka sungguh dia telah melakukan dosa besar” (An Nisa: 48). Berikut adalah pembagian syirik:

1. Syirik Al Akbar (Syirik Besar), yang terbagi menjadi 4 bagian:

a. Syirik Ad Du’aa (syirik dalam berdo’a) yang maksudnya yaitu berdoa meminta sesuatu kepada selain Allah. Dia telah menyebutkan hal ini dalam firman-Nya: ”Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh keikhlasan kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, mereka malahkembali mempersekutukan Allah” (Al Ankabut: 65). Semula orang-orang yang disebutkan Allah dalam ayat ini berdoa kepada-Nya dengan ikhlas agar mereka diselamatkan dalam perjalanan mengarungi lautan, mereka takut terjadi suatu bencana yang menimpa mereka ditengah samudra. Allah memperkenankan do’anya dan meyelamatkan mereka hingga sampai ke darat. Tatkala mereka sampai dengan selamat, mereka malah berdoa kepada selain Allah karena merasa telah aman. Inilah syirik yang tak terampuni.

b. Syirik Al Niyyah Wal Iradah Wal Qasd, yaitu meniatkan beribadah atau melakukan suatu amalan atau mengisi kehidupan di dunia yang tidak ditujukan kepada Allah. Nash yang membahas masalah ini adalah: ”Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan balasan penuh atas pekerjaan mereka di dunia dan mereka di dunia takkan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidk memperoleh sesuatu di akhirat kecuali neraka, dn sia-sialah apa yang mereka usahakan di dunia dan terhapuslah apa yang mereka kerjakan” (Hud: 15-16). Sudah semestinyalah seluruh perbuatan, tindakan, dan pekerjaan kita di dunia diniatkan untuk beribadah kepada Allah. ”Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (Al An’am: 162).

c. Syirik At Ta’ah adalah jenis syirik yang mana orang yang sebelumnya beriman bisa menjadi murtad dikarenakan memberikan ketaatan kepada seseorang atau kepada segala macam aturan dan kekuasaan yang bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan Allah, atau minimal memberikan ketaatan terhadap sesuatu hal yang batil yang dianggap sebanding dengan aturan Allah. Ambillah pelajaran dari ayat berikut: ”Mereka (Yahudi dan Nasrani) menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahibnya sebagai Tuhan selain Allah” (At Taubah: 31). Pada saat itu umat Nasrani dan Yahudi mentaati para rabbi dan pendeta mereka yang menetapkan aturan yang bertentangan dengan aturan Allah. Manakala para pengikutnya mentaati aturan yang diberlakukan olah para rabbi dan pendetanya, maka mereka telah dihukumi sebagai orang yang melakukan perbuatan syirik ketaatan dan dianggap telah mempertuhankan orang-orang alimnya.

d. Syirik Al Mahabbah, definisinya yaitu mencintai sesuatu secara berlebihan. Cintanya itu melebihi rasa cinta kepada Allah. ”Di antara manusia ada yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang beriman sangat besar cintanya kepada Allah” (Al Baqarah: 165).

2. Syirik Al Ashgar (Syirik Kecil), yaitu:

Perbuatan syirik yang juga dimurkai Allah namun tidak mengakibatkan pelakunya kekal di neraka dan tidak menjadikannya murtad. Syirik jenis ini adalah riya dan sum’ah; artinya amal ibadahnya dikarenakan supaya orang lain melihat dan mendengarnya lalu dia dijuluki orang yang taat beribadah. Orang yang melakukan demikian ini bertujuan ingin mendapatkan pujian dan sanjungan dari orang lain. Ibadah yang dilakukan karena niat seperti ini akan berujung kepada kesia-siaan. Allah SWT berfirman: ”Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ingin dipuji di hadapan manusia” (An Nisa: 142).

Penutup: Yang demikian adalah untaian nasihat dari kami. Semoga bisa dipetik hikmahnya oleh umat Islam pada umumnya dan kepada diri kami pada khususnya. Pesan sederhana ini adalah dasar beragama yang seharusnya sudah dipahami dengan baik oleh mereka yang mengaku mentauhidkan Allah dan mengingkari adanya hal-hal lain yang disembah. Sheikh Mubarak Al Mili berkata: ”Tidak cukup dalam dua kalimat syahadat dengan tauhid yang murni saja, hingga orang yang mengucapkannya mengingkari adanya sesembahan selain Allah” (Risalatusy Syirk Wa Mazhahiruhu, 20.) Saksikanlah bahwa kami tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Laman

Arsip

%d blogger menyukai ini: