Welcome to Alislamarrahman

Ahlu Sunnah Wal Jamaah

MUKADDIMAH

In the name of Allah, Most Beneficent, Most Merciful

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, meminta tolong kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan kita berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kita dan amal-amal kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada siapapun yang menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tidak ada siapapun yang menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang disembah melainkan Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Adapun sesudah itu maka sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi SAW dan sebaik-baik ikatan adalah kalimat takwa, dan berhati-hatilah kamu dengan perkara-perkara baru. Setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah, setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya neraka.

Islam adalah agama yang menunjukkan jalan keselamatan dunia-akhirat. Islam merupakan pedoman hidup manusia. Di dalamnya terdapat petunjuk-petunjuk hidup yang melingkupi segala macam aspek; baik itu hubungan manusia dengan Tuhan maupun hubungan manusia dengan manusia lainnya, kita menyebut ini sebagai habluminallah dan habluminanas. Agama ini membimbing kita dalam ”berkehidupan” di dunia, mengatur tingkah laku kita, mengajarkan berbuat baik (amar ma’ruf) dan mencegah keburukan (nahi munkar).[1]

Seluruh aspek kehidupan sudah tercakup dalam Islam mulai dari hal kecil sampai hal besar, mulai dari hal yang sepele dan remeh sampai hal yang penting, mulai dari ibadah yang sifatnya maghdu sampai yang ghairu maghdu. Dalam hal kecil, agama ini menjelaskan bagaimana etika makan, adab berbicara, adab buang air, dsb. Baik itu dijabarkan malalui Kitabullah atau melalui lisan Nabi-Nya. Adapun dalam hal besar (penting), Islam menyediakan tatanan hukum perundang-undangan yang bisa diimplementasikan dalam suatu masyarakat (negri). Melalui hukum-hukum yang telah dijelaskan itulah maka manusia bisa hidup dengan sikap yang tidak keluar batas. Manusia diatur untuk tidak menyakiti atau merugikan manusia lainnya. Jikalau ada seseorang yang bertindak zhalim, maka ada sanksi yang menantinya berupa hukuman atau denda. Secara singkat, seperti itulah garis besar gambaran agama yang hakiki ini, yang pasti benar, yang palin indah, yang paling baik.

Benar!!!

Hukum yang telah diatur oleh Rabb kami,[2] Allah SWT, dan bukan hukum yang dibuat oleh makhluk bernama manusia dan diterapkan di suatu negara. Lalu hukum buatan itu dijelaskan dan dijadikan pedoman untuk mengatur tingkah laku rakyatnya. Hukum yang kemudian dielajari di sekolah-sekolah tinggi. Hukum yang mendominasi kehidupan dan menggeser eksistensi hukum Allah yang sempurna. Hukum yang dibuat berdasarkan hasil olah pikir otak manusia yang dianggap lebih baik dari hukum yang diturunkan Allah Yang Maha Besar Maha Tinggi. Sungguh telah salah apa yang dilakukan manusia…

Tentunya setiap manusia yang beriman akan menjawab ”iya” apabila mereka ditanya; Apakah manusia adalah makhluk yang lemah dan pasti berbuat salah?[3] Tentunya hamba yang beriman akan menjawab ”iya” jika ditanya; Apakah wahyu Allah mutlak benar tanpa cacat?[4] Lalu mengapa manusia hanya menjadikan Islam sebagai simbol-simbol peribadatan semata seperti salat, zakat, puasa, haji, dsb. Lalu mengacuhkan syariat Allah yang tidak kalah penting yakni penerapan hukum Islam?[5]

Mengapa manusia berusaha mencari dan membuat kebenaran dengan cara berfikir, berfilsafat, berteori dan ber… ber… lainnya? Kebenaran tersebut mereka cari dengan berfikir keras, bermusyawarah, duduk bersama dan saling bertukar pendapat satu sama lain lalu diharapkan mencapai kesepakatan satu suara yang mana kesepakatan tersebut disepakati sebagai suatu ”kebenaran”. Lalu kebenaran itu ditulis dan dijadikan acuan hidup berupa undang-undang, norma-norma, dll.

Seorang hamba yang beriman dan berhati tulus hendaknya mengetahui bahwa kebenaran itu hanya bermuara kepada Allah. Kebenaran yang hakiki itu sudah tertulis dalam Al Qur’an sebagai kitab rujukan utama dan diikuti oleh perkataan Nabi-Nya yang dicatat oleh hamba-hamba-Nya yang shalih sejak dulu hingga sekarang dalam berbagai kitab hadist.

Al Quran dan Hadist!!!

Dua sumber itulah yang mengajarkan kebenaran yang diridhai-Nya. Dua sumber itulah yang seharusnya mendominasi hidup ini. Dua sumber itulah yang berperan sebagai pegangan kuat supaya tidak terhempas oleh tiupan angin yang sangat keras. Dua sumber itulah yang merupakan mata air yang tak pernah kering. Dua sumber itulah yang memberi janji atas semua amal manusia berupa surga yang sejuk dan bidadari-bidadari pemikat hati.

Al Qur’an dan hadist itulah yang menjelaskan tiga kehidupan; 1) Kehidupan di rahim ibu mulai dari segumpal darah, tulang, dan daging. 2) Kehidupan di alam nyata sejak anak-anak hingga dewasa. 3) Kehidupan di akhirat yang kekal berwujud surga yang penuh cinta dan neraka yang hina dina.

Maka apakah kitab perundang-undangan karya manusia menjelaskan tentang kejadian di rahim ibunda? Dan apakah kitab perundang-undangan karya manusia menjelaskan kehidupan surgawi? Jawaban bagi mereka yang berakal adalah ”tidak”.

Mana yang engkau pilih antara hasil karya Tuhan atau hasil karya sesamamu?[6]

Apakah engkau akan mengedepankan rasionalitasmu dalam menyikapi lika-liku kehidupan? Apakah engkau menimbang tolak ukur kebenaran berdasarkan akal pikiranmu saja? Yakinkah engkau apa yang kau anggap baik berarti baik juga di mata agama? Apakah engkau merasa sudut pandangmu telah sama dengan sudut pandang agama? Apakah engkau sudah merasa cukup dengan salat, puasa dan sedekah sebagai ibadahmu saja lalu engkau teruskan hidupmu dengan bekerja siang malam sambil mengurusi duniamu, lalu dengan itu kau merasa sudah terjamin untuk masuk surga?[7]

Kembalilah kepada dua aturan dasar yakni Al Qur’an dan hadist.[8] Itulah kitab aturan yang bersih putih murni yang tidak tercampur noda. Jikalau engkau tetap berada pada keadaanmu yang sekarang bergelimang dosa dan jauh dari kesucian, maka apa yang akan kau katakan untuk membela dirimu dikala engkau menghadap-Nya?


[1] See Ali Imran 110:

 

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik untuk manusia, menyeru amar ma’ruf dan nahi munkar, dan meyakini Allah.”

[2] See Al Maidah 44:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah, merekalah orang kafir.”

[3] See Al Ahzab 72:

إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya manusia itu zhalim lagi bodoh.”

[4] See Al Baqarah 2:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Kitab ini tidak ada keraguan didalamnya, petunjuk bagi orang beriman.”

[5] See Al Baqarah 208:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kedalam Islam secara total (kaffah)”

[6] See Al Maidah 50:

وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Hukum mana yang lebih baik dari hukum Allah, jika mereka orang yang beriman?”

[7] See Al Baqarah 214:

وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apa kamu mengira akan masuk surga sebelum datang cobaan yang dialami orang terdahulu?”

[8] See An Nisaa 59:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Al Quran dan Nabi-Nya.”

Filed under: Tak Berkategori

Halaman

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.